HCPT 2008 Report

•May 25, 2009 • Leave a Comment

 

HCPT 2008 Report

March 05, 2009 By: Syahrial Ali Category:

SOURCE  Hutchison Telecommunications International Limited

The Hutchison Telecommunication International Limited just released the complete report for the financial year 2008 for all of the company in the group, including the PT. Hutchison CP Telecommunications (’HCPT’) Indonesia. The main points are: — Customer base more than doubled to 4,501,000, while  — Accelerated network expansion with over 6,300 base stations on-air. Complete report is as below.

The Group’s Indonesian operation PT. Hutchison CP Telecommunications (’HCPT’) continued to report good progress in its second year of operation despite a very challenging environment. Total customer base grew over 120% yearly on the back of accelerated network expansion across the country, strong branding and an effective distribution system. HCPT ended the year 2008 with more than 6,300 base stations on-air covering over 67% of the total population and all major cities in the country. It expects to increase the size of its networks to over 9,000 base stations by the end of 2009. HCPT is looking to maintain strong customer acquisition in 2009 in line with its expanded coverage.

HCPT’s turnover for the year increased 169.2% to HK$315 million on the back of customer growth. However, as HCPT is still in the early stage of establishing its footprint and further network expansion and increased marketing activities are required to establish a critical mass of customers, its loss before interest, taxation, depreciation and amortisation (’LBITDA’) for 2008 increased to HK$1,003 million from HK$475 million in 2007.

Nevertheless 2008 was a successful year for HCPT, as it seeks to become a leading GSM operator in Indonesia. Particularly in the last quarter where there was encouraging improvement in profitability. Through a series of revenue improvement initiatives implemented in the beginning of the second half, HCPT’s prepaid average revenue per user (’ARPU’) went up 22.2% to IDR11,000 from the last quarter. Together with stablised minutes of use (’MOU’) the average revenue per minute (’ARPM’) was lifted to IDR200 compared to IDR177 in the third quarter. Although prepaid churn appeared to have increased to 24.3% this was mainly due to an one-off exercise at the year end that identified and reduced inactive customers. HCPT expects to see churn revert to levels experienced in earlier quarters.

HCPT Unaudited Key Performance Indicators for 2008

Customer Base

                       Total  Postpaid   Prepaid

                       (‘000)    (‘000)    (‘000)

31 December 2008        4,501       11     4,490

30 September 2008       3,604        9     3,595

30 June 2008            3,203        7     3,196

31 March 2008           2,331        4     2,327

31 December 2007        2,039        3     2,036

 

ARPU                   Blended  Postpaid   Prepaid

                        (‘000)    (‘000)    (‘000)

31 December 2008           11      134      11

30 September 2008          10      134       9

30 June 2008               12      108      12

31 March 2008              14      120      14

31 December 2007           15      1        15

 

Minutes of Usage (MOU) Blended  Postpaid   Prepaid

31 December 2008           55      225      55

30 September 2008          56      209      56

30 June 2008               82      117      82

31 March 2008              94      104      94

31 December 2007           83       59      83

 

Churn rate             Blended  Postpaid   Prepaid

31 December 2008           24.2%    4.1%    24.3%

30 September 2008          18.1%    5.3%    18.1%

30 June 2008               15.6%    7.9%    15.6%

31 March 2008              17.6%    11.0%   17.6%

31 December 2007           17.7%    16.3%   17.7%

 

Source: http://syahrialali.com/2009/03/hcpt-2008-report/

MOU calculation method

•May 25, 2009 • Leave a Comment

http://books.google.com/books?id=HkevyvgMYEgC&pg=PA77&lpg=PA77&dq=how+to+calculate+minutes+of+usage+telecommunication&source=bl&ots=VYdhlcpLVi&sig=a0IwyutsQwwCVkqC7Cqdo24vjDM&hl=en&ei=_CsWStrlOIro6gOHye25Cg&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1#PPA77,M1

Excel Batal Jual 7.000 Menara

•May 25, 2009 • Leave a Comment

Page 1 of 1

Arinto Tri Wibowo, Nerisa

Excel Batal Jual 7.000 Menara

RABU, 11 FEBRUARI 2009, 11:13 WIB

VIVAnews - PT Excelcomindo Pratama Tbk (EXCL) bermaksud membatalkan rencana penjualan 7.000

menara telekomunikasi yang diusung perseroan sejak 2008. Pembatalan tersebut dilakukan karena

harga penawaran dari peserta lelang tidak sesuai dengan target perusahaan.

“Harga penawaran penjualan menara tidak mencapai target yang diharapkan, karena calon pembeli

sulit memperoleh pendanaan akibat krisis global,” kata Sekretaris Perusahaan Excelcomindo Pratama,

Ike Andiani, dalam penjelasan tertulis perseroan yang dipublikasikan PT Bursa Efek Indonesia (BEI),

Rabu 11 Februari 2009.

Sebelumnya, dana hasil penjualan menara dialokasikan untuk mencukupi belanja modal (capital

expenditure/capex ) 2009. Excelcomindo awalnya juga menargetkan lelang itu rampung pada awal

2009.

Hingga saat ini, masih ada enam peserta lelang yang ikut berpartisipasi. Peserta lelang tersebut

merupakan perusahaan investasi dan konstruksi.

Direktur Utama Excelcomindo Pratama, Hasnul Suhaimi, sempat mengakui, pihaknya tengah

mempertimbangkan penutupan tender penjualan menara itu. Perseroan akan mengecek tiap bank

yang akan bekerja sama dengan pemenang tender.

Perusahaan telekomunikasi ini berharap bisa menjual menara BTS di atas kisaran harga US$ 635-808

juta atau Rp 5,7-7,3 triliun dengan kurs Rp 9.000/US$. Target tersebut merupakan kisaran wajar hasil

penilaian tim penilai independen PT Ujatek Baru sebesar US$ 90,73 ribu hingga US$ 115,4 ribu per

menara.

Saat dikonfirmasi, Senior Vice President Corporate Finance and Treasury Excelcomindo, Johnson Chan,

mengungkapkan, pihaknya sebenarnya tetap berniat menjual menara BTS. “Namun, Excelcomindo

masih menunggu saat yang tepat,” kata dia saat dihubungi di Jakarta, Selasa 10 Februari 2009.

Johnson menambahkan, perseroan juga masih mengkaji rencana penawaran umum terbatas (rights

issue) yang diharapkan terealisasi pada kuartal II-2009.

Sementara itu, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) yang juga sedang menegosiasikan rencana penjualan

300-500 menara base transceiver station (BTS) masih melanjutkan proses lelang. Perseroan berharap

bisa merampungkan lelang pada akhir Februari 2009.

“Rencana penjualan kami tetap jalan karena menara yang akan dilepas jumlahnya tidak sebanyak milik

Excel,” kata Direktur Corporate Services Bakrie Telecom, Rakhmat Junaidi saat dihubungi VIVAnews,

kemarin.

http://www.vivanews.com

http://bisnis.vivanews.com/news/read/29118-excel_batal_jual_7_000_menara

Dipublikasikan : Rabu, 11 Februari 2009, 11:13 WIB

©VIVAnews.com

XL – BTS & CAPEX

•May 25, 2009 • Leave a Comment

XL 300 bts dibangun 2009 (200 nya ada di jabodetabek) Capex 2009: 650 juta dolar

info BTS ..PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia

•May 25, 2009 • Leave a Comment

Pendapat yang mirip juga diutarakan oleh PT SampoernaTelekomunikasi Indonesia. Bagi mereka, adanya kebijakan ini akan berarti meningkatkan efisiensi karena di daerah yang sudah mapan infrastrukturnya tidak lagi perlu dibangun menara lagi. Meski banyak yang kelihatan sudah bergerak menanggapi kebijakan tower sharing ini, ternyata di satu dua sisi masih ada beberapa hal yang patut dicermati lebih dalam. Beberapa pendapat mengatakan bahwa sebagian menara itu dibangun tidak dalam kapasitas untuk dibagi dengan operator lain. Artinya, beberapa menara dianggap kurang sanggup secara teknologi untuk dilakukan tower sharing. Dari Telkomsel sendiri memang mengakui bahwa sekitar 80% BTS yang berupa menara milik Telkomsel, hanya 65 % yang bisa di-sharing dengan operator lain.

 

PT Excelmindo (XL) adalah salah satu pihak yang cukup agresif untuk melakukan tower sharing. Sejauh ini mereka sudah melakukan kerja sama dengan PT Hutchison CP Telecom Indonesia, PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia, dan PT Bakrie Telecom. Terakhir juga mereka melakukan kerja sama sejenis dengan PT Natrindo Telepon Seluler (NTS). Untuk kerja sama dengan NTS, mereka akan telah sepakat untuk melakukan kerja sama ini selama 10 tahun. 

 

 

sumber: dari si Lia

http://www.scribd.com/doc/8622233/Lia

Indonesian 2008 Wireless Subscriber Data

•May 25, 2009 • Leave a Comment

Indonesian 2008 Wireless Subscriber Data

May 15, 2009 By: Syahrial Ali Category: General

At the end of 2008, Indonesian wireless subscribers have reached 160m. Most of them are still prepaid subscriber which reached 155.8m (97%), just left 3% for postpaid. Telkomsel is still the biggest operator with 40% market, followed by Indosat and XL respectively.

In CDMA, Telkom Flexi led the market followed by Bakrie Esia and Mobile-8. The complete data can be seen on the table below.

Indonesian 2008 Wireless Subscribers Data

Operator

Prepaid

Post paid

Total

FWA Operator

     

Telkom Flexi

12.5m 0.7m 13.2m

Indosat StarOne

0.7m 0.08m 0.78m

Bakrietel

7m 0.1m 7.1m

Mobile-8 Hepi

0.3m   0.3m

Cellular Operator

     

Telkomsel

63m 2m 65m

Indosat

35m 1m 36m

XL

25m 0.5m 25.5m

Mobile-8 Fren

2.5m .15m 2.65m

Sampoerna

0.8m   0.8m

NTS

3m   3m

HCPT

4.5m   4.5m

Smart Telecom

1.5m 0.1m 1.6m

Total

155.8m 4.63m 160.43m

 Source: http://syahrialali.com/2009/05/indonesian-2008-wireless-subscriber-data/

Marketing Expense Q1 2009 OLO

•May 25, 2009 • 1 Comment

Marketing Expense Q1 2009 OLO

Telkomsel

-          Marketing Expenses Rp. 222 billion

-          Marketing expenses declined 2% YoY to Rp. 0.22 trillion, mainly due to lower sponsorship expense.

Bakrie Telkom:

-          Sales and Marketing expense for Q1: Rp Rp 49,299 miliar

PT. Excelcomindo

-          Sales Commision and Marketing Expense: Rp 231 millyar

Axis

-          (Rp 78,921 miliar)

Esia

-          49,299 miliar

HCPT

-          Rp 70,527 miliar

Mobile 8

-          Rp. 36.830 milliar

 

Sekedar mengingatkan, besaran belanja iklan itu belum menunjukkan angka sebenarnya karena survei pengamatan langsung eksposure iklan (gross rate card) di tiga jenis media, yakni 102 jenis koran, 19 stasiun televisi, dan 163 jenis majalah tanpa menghitung diskon, promo, dan iklan baris.

 

(Sumber: Belanja iklan di media;  AC Nielson semester 1 2009)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.