Utilisasi Jaringan Rendah, Drop Call Flexi Tetap Tinggi?

 BERITA – internet-web.infogue.com – Salah satu alasan mengapa Telkom menggratiskan tarif telepon antarsesama Flexi di Jabodetabek, Jawa Barat, dan Banten, tak lain karena utilisasi jaringan yang masih rendah. Demikian diungkapkan Executive General Manager Telkom Divisi Regional II, Adeng Achmad, yang membawahi ketiga wilayah itu. “Utilisasi Flexi di Jabodetabek, Jawa Barat, dan Banten cuma 20-30 persen dari kapasitas jaringan terpasang,” katanya usai jumpa pers Telkom Merdeka Vaganza, di Gedung Telkom, Jakarta, Rabu (6/8/2008). Telkom mulai memberlakukan program telepon gratis ke sesama Flexi sejak 5 Agustus 2008. Program promosi ini berlaku hingga akhir tahun. Menurut Adeng, program telepon gratis ini sengaja digelar karena performa penjualan produk telepon nirkabel terbatas itu kurang memuaskan. Selama enam bulan sejak awal tahun, Telkom cuma berhasil memasarkan 696.608 satuan sambungan Flexi. Padahal, target penjualan yang dipatok hingga akhir tahun harus berhasil mencapai 3,6 juta dari 1,3 juta pelanggan yang sudah ada di akhir 2007. “Penjualan satu semester ini kurang memuaskan. Itu sebabnya coba kami genjot dengan menggelar program promosi telepon gratis ini. Semoga target 3,6 juta pelanggan di Divre II bisa tercapai,” kata Adeng. Dalam menggelar layanan Flexi, Telkom saat ini telah memiliki 580 pemancar base transceiver station (BTS) di Jabodetabek, Jawa Barat, dan Banten. Hingga akhir tahun, jumlah pemancar telekomunikasi itu katanya akan ditingkatkan menjadi satu juta unit, sehingga mampu melayani sampai 5,7 juta pelanggan Flexi. Drop Call Meski tingkat utilisasi atau pemanfaatan jaringan di Flexi masih rendah, namun Adeng tak memungkiri masih adanya keluhan pelanggan perihal kegagalan panggilan (drop call). “Sekarang drop call bukan keluhan yang utama, sudah mundur ke peringkat tiga.” Adeng menjelaskan, penyebab masih terjadinya drop call tak lain karena cakupan sinyal Flexi belum menjalar ke seluruh titik akses layanan, semisal gedung-gedung di perkotaan. “Dari 600 gedung yang ada di Jakarta dan sekitarnya, sinyal kami cuma strong 40 persen saja. Sisanya masih kurang,” akunya. Penyebabnya tak lain karena belum ada kata sepakat Telkom dan pihak pengelola gedung. “Bagaimana mau sepakat, ketika kita cuma mau sewa satu lantai saja, mereka mengharuskan sewa semua lantai. Mana sanggup kita bayar dua miliar rupiah untuk sewa satu gedung. Memangnya, trafik di satu gedung bisa menghasilkan dua miliar juga?” keluh Adeng.

~ by informationmedia on May 1, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: