Petikan Wancara dengan Direktur Utama Telkomsel

Petikan Wancara dengan Direktur Utama Telkomsel

Seluler, No 110/ Mei 2009

Betapapun, orang yang sudah sangat kenyang asam garam infrastruktur telekomunikasi ini, sudah bersiap menata tugas dan tanggung jawabnya sebagai nahkoda baru Telkomsel. la bercerita panjang lebar soal itu, dan juga soal masa depan industri selular nasional, kepada Aulia Hs, Lukman Aribowo dan Gunarto dari SELULAR, di kantornya lantai 15 Wisma Mulia, Jakarta. Berikut petikannya:

Bagaimana perasaan Anda ketika ditunjuk menjadi Direktur Utama Telkomsel? Tugas ini memang menantang ya. Mengapa? Karena saya lihat lingkungan bisnisnya selular sekarang itu memang pada periode yang saya sebut consolidation.

Maksudnya? Anda lihat sendiri di lapangan, persaingan begitu ketat. Akibatnya operator sibuk dengan kuantiti, tapi revenue tidak ada. Kuantiti pelanggan meningkat double digit, di atas 25%-30%o. Telkomsel sendiri 36% tahun lalu. Kemudian minute of usage naik tiga kali lipat perbulan. Kuantiti naik double d/glt tetapi impactnya hanya /ess than one digit, itu di bawah lima. Jadi inilah tantangannya. Dari sisi market mikro seperti itu. Sedangkan makronya karena krisis. Pengaruhnya sudah terlihat. Hampir semua dealership (authorised dealer) rame-rame bilang mereka over stock. Akibatnya working capital mereka tak bisa bergulir cepat, terjadi pengurangan keuntungan. Konsumen kita itu ternyata low end. lnipun sudah ada tendensi mengurangi jumlah recharge (isi ulang pulsa), jadi krisis ini sudah berpengaruh ke situ. Buat kita seperti jadi dua pukulan. Makanya, saya bilang ini periode konsolidasi, tidak lagi periode glorious.

Strategi menghadapi itu? Ada tanda-tanda yang bisa jadi modal untuk membuat strategi.

Pertama, Anda lihat bahwa voucher-voucher kita masih dijual di atas bandrol, dan laku!

Yang kedua, meskipun penetrasi pelanggan selular terhadap penduduk, khususnya Jabotabek sudah lebih dari 120%, di Jawa mendekati 100%, kemudian secara nasional kurang lebih 60-70 persen, sehingga orang bilang ini sudah saturation, tetapi tanda-andanya di lndonesia nggak. Pasar di lndonesia itu unik, exceptional. Teorinya kan kalau sudah 100%, mungkin akan terjadi pengurangan demand. Nyatanya, minute of usagenya masih naik terus.

Ketiga, konsumen kita itu masih mengkonsumsi basic service only (voice dan SMS). Padahal yang namanya mobility itu, adalah lifestyle industry. Kalau bicara lifestyle, tidak hanya di-drive oleh voice dan SMS, ada ruang yang masih sangat lebar untuk product and services. Tanda-tanda yang keempat, ini khusus Telkomsel, kita tidak pernah mengurangi capex (capital expenditure/belanja modal). Kita masih bertahan antara US$1 ,3 sampai US$1 ,5 miliar. ltu adalah empat kombinasi untuk membuat strategi. Bahwa kita ini masih mempunyai ekspektasi maintaining become the bigger the stronger dan lain sebagainya.

~ by telcoindustry on May 13, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: